Rabu, 21 November 2012


Senin, 24 Sep 2012, | 211
Partai Hanura Jual Mahal Koalisi Partai=Tawar Menawar
KUPANG, TIMEX - Tarik menarik kepentingan partai politik jelang Pilgub NTT 2013 kian kencang. Hal ini tidak terlepas dari semakin tingginya posisi tawar partai-partai yang diajak berkoalisi. Apalagi hingga kini belum jelas partai-partai yang akan berkoalisi mengusung paket tertentu.

Adalah dua pengamat politik, David Pandie (Undana) dan Ahmad Atang (Universitas Muhammadiyah Kupang) kepada koran ini, Minggu (23/9) di Kupang. Menurut David Pandie, Partai Gerindra yang telah mengusung Esthon Foenay belum mendapat partai koalisi cukup beralasan.

Hal ini karena Gerindra yang memiliki enam kursi di dewan tidak terlebih dahulu melakukan koalisi dengan partai lain sebelum mengusung Esthon. "Kalau koalisi yang mau dibangun sekarang tentu posisi tawar dari partai politik yang diajak koalisi lebih tinggi. Apakah tawarannya berupa posisi wakil gubernur atau lainnya tentu sangat tinggi," kata David.

Pembantu Rektor III Undana ini membenarkan juga salah satu tawaran adalah uang karena itu sangat terbuka kemungkinan dilakukan partai politik yang hendak berkoalisi. "Saya kira tawaran karena kesamaan visi dan misi persentasenya kecil," ujar pengajar Fisip Undana ini.

Karena itu dia mengaku tidak heran jika sejauh ini Partai Gerindra belum mengumumkan partai koalisi untuk mengusung Esthon Foenay. Apalagi komunikasi politik yang dibangun untuk melakukan koalisi belum menemukan titik temu sehingga belum ada koalisi resmi yang dibangun sejauh ini.

Kondisi yang sama menurut David, juga dialami partai lain yang juga akan mengusung calon sendiri namun belum memenuhi syarat mengajukan calon. Partai tersebut adalah Demokrat yang kemungkinan besar akan mengusung Benny Kabur Harman.

"Kondisi yang sama juga saya lihat terjadi di Partai Demokrat. Walaupun sudah ada statemen bahwa sudah ada partai koalisi dengan jumlah kursi mencapai 18 tetapi belum disampaikan secara resmi hingga saat ini," kata David Pandie.

Hal yang sama juga disampaikan pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Kupang, Ahmad Atang. Menurut Atang, saat ini masih terjadi tarik menarik kepentingan antara partai politik yang akan melakukan koalisi sehingga belum ada partai politik yang resmi melakukan koalisi. "Padahal, waktu pelaksanaan Pilgub semakin dekat yang mana figur calon membutuhkan waktu yang cukup untuk melakukan sosialisasi diri," ujarnya.

Menurut Atang, belum adanya koalisi yang dibangun itu karena posisi tawar dari partai yang diajak koalisi cukup tinggi. "Bisa posisinya sebagai calon wakil gubernur atau bisa juga uang sehingga belum ada partai yang resmi melakukan koalisi," ujarnya.

Karena itu menurut Atang, koalisi yang akan dibangun adalah koalisi minimalis karena partai politik yang akan berkoalisi hanya sebatas untuk memenuhi syarat untuk mengajukan calon. "Sehingga kalau Gerindra sudah punya enam kursi maka dia hanya butuh tiga kursi lagi atau Demokrat yang sudah punya tujuh hanya mencari dua lagi," ujarnya. Hal itu menurutnya karena tingginya posisi tawar dari partai peserta koalisi.

Apalagi, lanjutnya, fenomena kemenangan Jokowi di Pilgub DKI Jakarta yang mana hanya ada dua partai koalisi akan memberi spirit partai di daerah dalam melakukan koalisi.

Terpisah, Ketua DPD Hanura NTT, Jimmy Sianto yang dikonfirmasi mengenai koalisi dengan partai lain jelang Pilgub NTT, Minggu kemarin mengatakan partai yang dipimpinnya masih sebatas melakukan penjajakan dengan partai politik lainnya untuk koalisi. "Belum ada kemajuan karena kami baru sebatas melakukan penjajakan untuk melakukan koalisi," ujar Jimmy.

Namun, dia mengaku sudah menemui Gubernur NTT yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan, Frans Lebu Raya dan Wakil Gubernur NTT, Esthon Foenay guna membicarakan mengenai koalisi tersebut.

"Saya sudah bertemu dengan Pak Frans dan Pak Esthon namun kami masih sebatas melakukan penjajakan untuk koalisi. Belum ada keputusan karena Hanura sendiri belum melakukan proses. Prinsipnya semua yang bangun komunikasi siap mengikuti mekanisme yang ada di Hanura," kata Jimmy.

Ditanya tawaran untuk posisi wakil gubernur dari Partai Gerindra untuk mendampingi Esthon Foenay, Jimmy mengatakan, pihaknya baru sebatas melakukan penjajakan. Namun, informasi yang diperoleh koran ini, Hanura mendapat tawaran untuk posisi wakil gubernur jika berkoalisi dengan Gerindra.

Hanura sendiri sudah menyiapkan beberapa figurnya untuk maju dalam Pilgub seperti Saleh Husin (Anggota DPR RI asal NTT) dan Jimmy Sianto (Ketua DPD Hanura NTT).
Partai Hanura saat ini memang memiliki posisi yang strategis karena memiliki lima kursi di DPRD NTT. Keberadaannya dalam koalisi akan sangat menentukan. Sehingga posisi tawarnya juga sangat tinggi. Partai lain yang juga memiliki posisi tawar cukup tinggi adalah PDS (3 kursi) dan PKPB (3 kursi). (ito/vit)


PARPOL YANG SUDAH AJUKAN CALON

1. Partai Golkar : 11 kursi (memenuhi syarat pengajuan calon)
2. PDI Perjuangan : 9 kursi (memenuhi syarat pengajuan calon)
3. Partai Demokrat : 7 kursi (belum memenuhi syarat)
4. Partai Gerindra : 6 kursi (belum memenuhi syarat)

PARTAI DENGAN POSISI TAWAR

1. Partai Hanura : 5 kursi
2. PDS : 3 kursi
3. PKPB : 3 kursi
4. PPRN : 1 kursi
5. PKS : 1 kursi
6. PAN : 1 kursi
7. PKB : 1 kursi
8. PPI : 1 kursi
9. Pakar Pangan : 1 kursi
10. PPDI : 1 kursi
11. PDK : 1 kursi
12. Republikan : 1 kursi
13. Pelopor : 1 kursi
14. PPP : 1 kursi

SUMBER: DATA OLAHAN TIMEX

Selasa, 20 November 2012

KONTES PILKADA GUBERNUR (ADA SIAPA DI BALIK SIAPA)


Di tengah derasnya arus reformasi dan pelaksanaan otonomi daerah (kabupaten) di Indonesai,  membawa dampak pada melemahnya pengaruh pusat atas dominasi para pemimpinan daerah (Bupati dan Wali Kota). Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat di daerah ( status-kontroversial) dari hari ke hari semakin tergerus kekuasaan dan kewibawaannya. Apa yg menarik, perebutan kursi orang nomor satu itu (gubernur) tetap tdk surut dan bahkan malah semakin sengit. Segala upaya, tenaga, cara, kekuatan relasi dan tentu kekuatan finansial malah semakin besar dan sulit diterka sampai batas mana pertarungan itu akan ber/terhenti. Nalar tentu tentu tdk bisa di akal-akali atau di kelabui atas fenomena yg sedang terjadi tsb. Pertanyaan, ada di balik status Gubernur yg nyata-nyata telah kehilangan/terkuiras kekuasaan dan kewibawaannya itu. "Ada gula ,ada semut " mungkin kalimat sederhana tsb bisa membantu kita utk melacak motif di balik pertarung habis-habisan antar figur-figur balon Pilkada tsb.Pengorbanan  fikiran, tenaga dan juiga menguras beban finansial yg tdk menyurut tersebut itu membuat kita terus bertanya, "apa yg hendak di kejar/di capai" , betulkah tdk ada siapa di balik siapa terkait tersedianya dana-dana kampanye. Para pengusaha/pemodal tdk kurang gesitnya melihat momen ini sebagai peluang besar untuk memperluas dan menancapkan kukunya mulai dari kabupaten hingga propinsi. Bukan menjadi rahasia lagi kalau di balik semua itu terdapat grand strategy " pengamanan proyek-proyek vital milik para cukong".. Utk memuluskan niat tersebut para pengusaha tdk akan segan-segan membuang dana besar. Praktis semuanya pengusaha ikut secar tdk langsung ikut bertarung di ruang gelap.(hal 1- bersambung....)
Ketua Hanura NTT: Itu Hanya Isu
Pos Kupang - Selasa, 20 November 2012 | 21:33 WITA                

Jimmy-Sianto.jpg
POS KUPANG/ALF
Jimmy Sianto, Ketua Partai Hanura NTT
Laporan Wartawan Pos Kupang, Edy Bau

POS KUPANG.COM, KUPANG
-- Ketua DPD Partai Hanura NTT, Jimmi W.B. Sianto kepada Pos Kupang melalui layanan Blackberry Messenger (BBM), Senin (19/11/2012) sore menanggapi adanya informasi yang beredar bahwa dirinya selaku Ketua DPD Hanura NTT mendapat penolakan alias Mosi tidak percaya dari pengurus partainya, Sianto membantah keras.

Menurutnya, informasi itu hanya merupakan isu sesat yang sengaja dihembuskan oleh oknum tertentu sehingga tidak perlu ditanggapi.

"Tidak ada itu. Itu hanya isu saja dan kami baru rapat Badan pengurus harian  DPD Hanura NTT," jawabnya melalui BBM, Selasa (20/11/2012) sore.

Editor : alfred_dama
Sumber : Pos Kupang
Rabu, 21 Nov 2012, | 5

Iban: DPP Golkar Tunju Saya
JAKARTA, TIMEX - Ketua DPD I Golkar NTT, Ibrahim Agustinus Medah mengklaim telah mendapat restu dari DPP Partai Golkar sebagai calon gubernur (Cagub) NTT untuk maju bertarung pada Pemilu Gubernur (Pilgub) NTT tahun 2013 nanti.

Klaim sosok yang akrab disapa Iban Medah ini karena dirinya memiliki tingkat elektabilitas lebih baik dibanding figur lain yang telah disurvei DPP Partai Golkar, melalui lembaga survei yang ditunjuk partai berlambang pohon beringin itu. Hanya, proses penetapan cagub dan cawagub Partai Golkar ini belum dilakukan.

Ada dua alasan penetapan ini ditunda untuk kesekian kalinya, pertama, karena ada anggota tim Pilkada DPP Partai Golkar yang sedang ke luar negeri (LN) sehingga tidak lengkap. Alasan kedua, DPP Golkar membutuhkan tambahan waktu untuk melakukan kajian terhadap hasil survei untuk figur/calon wakil gubernur pendamping calon gubernur nanti.

Iban Medah yang dikonfirmasi Fajar Media Center (FMC), tadi malam (20/11), membenarkan bahwa dirinya sudah ditunjuk DPP Golkar untuk menjadi cagub NTT. "Iya memang benar setelah tadi (kemarin, red) saya bertemu unsur DPP, saya ditunjuk menjadi calon dari Golkar, tapi sampai sekarang belum penetapan karena masih menunggu kajian terhadap calon wakil. Jadi masih menunggu satu dua hari lagi," ungkap Iban Medah.

Menurut Iban, dirinya disetujui DPP Golkar untuk maju Pilgub NTT karena hasil survei yang dilakukan lembaga survei yang ditunjuk DPP Partai Golkar menempatkan Iban diposisi teratas. Karena itu, Iban masih menunggu jadwal penetapan dari DPP Partai Golkar. "Karena saat ini tim Pemilukada DPP belum lengkap, maka mungkin satu atau dua hari lagi (baru ditetapkan, red), sambil menunggu kajian terhadap (calon) wakil," jelasnya.

Terkait cawagub yang akan mendampingi dirinya, Iban menyatakan DPP akan kembali mengambil keputusan berdasarkan hasil survei, sehingga dirinya masih menunggu hasil kajian tersebut.

Diantara Alo Liliweri dan Hugo Kalembu, siapakah yang lebih berpeluang? "Saya tidak mau menyebutkan siapa-siapa. Tapi nama-nama itu sudah ada dan akan diputuskan oleh DPP sesuai dengan hasil survei," kata Iban Medah.
Iban membantah jika penentuan wakil gubernur yang mendampinginya diserahkan kepada dia untuk menentukan.

Dikatakan, penentuan wakil gubernur juga harus mengacu kepada hasil survei. Siapa yang tertinggi maka akan ditetapkan. "Tidak benar itu. Semua berdasarkan hasil survei. Nanti dalam rapat baru kita bisa tau siapa yang tertinggi. Kita pilih yang punya elektabilitas tinggi," kata mantan Bupati Kupang dua periode itu.

Terpisah, Korwil NTT, Charles Mesang juga membenarkan bahwa Iban Medah yang direkomendasikan DPP Golkar menjadi cagub NTT. Namun, sampai saat ini DPP belum memutuskan siapa cawagub pendamping Medah. Penetapan wakil masih menunggu tim Pemilukada DPP. "Saat ini ada tim yang masih di luar negeri, ada yang masih di luar daerah dan kita harus menunggu mereka. Satu dua hari lagi sudah bisa. Paling lambat akhir pekan ini," ujar Charles.

Menurut dia, penetapan cagub akan dilakukan serentak bersama cawagub dan akan dihadiri semua unsur DPP. "Jadi harus menunggu wakil baru sekalian ditetapkan. Tidak satu-satu, semua serentak," kata anggota Komisi IX DPR RI itu.

Charles enggan berkomentar soal peluang dua kandidat pendamping Iban Medah, yakni Hugo Rehi Kalembu dan Alo Liliweri. Menurut dia, DPP dan tim Pemilukada akan mengkaji hasil survei yang telah dilakukan dan pertimbangan-pertimbangan lainnya. "Belum bisa saya omong karena harus dikaji lagi hasil survei. Nanti di rapat baru dibahas hasil survei itu," jelas Charles.

Berdasarkan informasi yang dihimpun di DPP Golkar sebelumnya, terkait calon wakil gubernur, figur Alo Liliweri lebih unggul atas kandidat lainnya. Hugo Kalembu hanya unggul di daratan Sumba. Sementara dukungan untuk Alo Liliweri tersebar di hampir semua kabupaten/kota di NTT.

Kandidat calon wakil gubernur lain yang mempunyai elektabilitas tinggi adalah Christian Rotok (Bupati Manggarai) yang kini lebih memilih menjadi calon gubernur dari jalur independen menggandeng kader Golkar lainnya, Abraham Paul Liyanto. (sam/fmc/aln)
 
Tahapan Pilgub NTT
 
 
 
 
Pos Kupang - Selasa, 16 Oktober 2012 | 22:29 WITA

Pilkada-KPU.jpg
Net
Ilustrasi


1. Tahapan persiapan : 1 Januari 2012 - 15  Oktober 2012

2. Pelaksanaan :

a). Pemutakhiran data pemilih : Tanggal 3 September 2012 - 14 Maret 2013.

b). Pencalonan : Tanggal 8 November 2012 - 4  Februari 2013

c). Pengadaan dan pendistribusian perlengkapan pemungutan suara: tanggal 1 Desember
2012        - 11 Maret 2013

d). Mengusulkan hari dan tanggal pemunghutan  suara kepada mendagri melalui Gubernur;            Tanggal 18 Februari 2013 - 15 Maret 2013.

e). Kampanye : Tanggal 24 Februari 2013 - 6  April 2013.

f). Pemungutan dan perhitungan suara :
      * Persiapan : tanggal 1 maret 2013 - 17 Maret 2013
      * Pelaksanaan : Tanggal 18 Maret 2013 - 27 Maret 2013
      * Pelantikan dan pengucapan sumpah dan  janji;  16 Juli 2013.

3. Penyelesaian : 28 Maret 2013 - 16 Juli 2013.

* Putaran kedua dijadwalkan tanggal 19 April 2013 - 16    Juli 2013.
 GESEKAN DAN TARIK MENARIK DI SEKITAR PILGUB-NTT PERIODE ( 2013-2018)

Drs. Fritz Dju Bida
Usman Gumantik,SE

Peta pertarungan politik di pentas pilgub NTT dari hari- kehari  semakin marak. Paling tidak itu terlihat ketikan Golkar sebagai salah satu Partai besar masih belum juga mampu menetapkan calon tetap, siapa yg bakal di usung utk maju bertarung di perhelatan pentas PILGUB-NTT kali ini.Gesekan dan perebutan pengaruh antara kubu Iban Meda dgn Drs. FRITZ DJU BIDA                                  kubu Rotok semakin menajam. Klaim bahwa salah satu pihaklah yg lebih mendapatkan dukungan rakyat masih belum juga usai. Survay publik sebagai syarat utama pencalonan Partai Golkar masih belum memberikan keputusan, siapa yg terpilih dan di usung oleh paratai berbaju kuning ini.  Sementara pihak Rotok tetap memasang strategy bermain di dua kaki, karena sejak semula pasangan rotok-Abraham Liyanto juga menyiapkan pintu masuk lain (independen).Sementara di kubu lain perebutan pengaruh di tubuh artai besar (Partai Demokrat ) juga tetap berlangsung sengit antara kubu Benny K Harman dgn rekan sesama partainya Itta Gah. Kubu Esthon -Tallo yg di usung Partai Gerindra dan PDS tampak percaya diri krn minim gesekan walau perebutan pengaruh sang wagub dgn gubernur (Frans Leburaya) ini sesungguhnya secara diam-diam terus saja berlangsung. PDIP konon walau tampak telah aman tetap saja masih terus bergerilya merebuit pengaruh partai-partai PPP,PKB dan PKS  plus Hanura (partai berhaluan Islam kecuali Hanura). Pergerakan PDIP ini akan meringankan beban Kubu Benny  K Harman dlm usaha merebut pengaruh DDP PD .Di luar persaingan antara calon-calon dari partai-partai yg memiliki kursi tersebut, partai-parati NON SIT juga tdk kalag gesit. Partai non sit dengan sigab membentuk koalisi BHINEKA utk mengusung calon mereka sendiri..Partai NON SIT ini yg berjumlah 19 partai dgn akumulasi 22,8 persen suara ini bagaimanapun adalah kuda hitam yg sewaktu-waktu mencuri peluang> Kabar terakhir dari dari sekian banyak peminat yg mengambil formulir ,hanya tiga yg mengembalikan formulir isian dan terakhir tinggal kubu Benny Bosu dan kubu FRITZ-USMAN (FIRDAUS) yg dinyatakan telah resmi mendaftar. Persaingan antara Kubu Bosu dgn kubu FIRDAUS masih terus berlangsung. Masih ada beberapa tahab (FIT and PHROPER). Na/mun berdasarkan isu yg santer di dengar, kubu FIRDAUS lebih besar peluangnya.Pengalaman Fritz Dju Bida ketika menjadi Wakil Bupati Kupang dan kemampuan menguasai masalah lokal menjadi modal kuat ketika harus menggandeng calon wakilnya yg terbilang seorang bankir senior (Usman Gumanti,SE). Paduan antara figur yg berpengalaman di bidang operasional birokrasi dgn ekonom (bankir) mereka klaim sebagi paduan yg saling mengisi da menjadi modal kuat memecah kebuntuan pembangnan di NTT. Fritz yg merupakan putra Sabu ini tampak sudah banyak makan asam garam politik lokal NTT sementara Usaman yg akrab di sapa Jhony lebih banyak fokus ketika membicarakan bagaomana agar investasi dapat mendarat di NTT. Bankir senior yg bertempat tinggal di Jakarta ini adalah juga putra NTT asli. Lahir di Sumba, kecil di Pulau Timor. Putra salah satu pemuka Muslim NTT dan Polisi ini tampak sekali lebih tenang menyikapi peta persaingan di pilgub kali ini. Usman Gumantik yg adalah keluarga besar Baranuri asli Ende ini tdk menjanjikan apa-apa selain kerja keras. Statemennya yg menyatakan ' kami maju bukan utk mengalahkan atau memenangkan siapa-siapa, kami maju krn telah siap memikul beban yg selama ini di biarkan oleh para pememimpin sebelumnya'. Dua pasangan ini mengajak rakyat utk bersatu, menyatukan tekad utk sesegeramungik mengejar ketertinggalan NTT..(oleh : Max Umbu)


Selasa, 16 Oct 2012, | 403
Tahapan Pilgub NTT Resmi Dimulai Pilgub NTT Jangan Asal Jadi
KUPANG, TIMEX - Secara resmi tahapan Pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur (Pilgub) NTT periode 2013-2018 dimulai, Senin (15/10). KPU Pusat mengingatkan KPU NTT untuk melaksanakan penuh tanggung jawab. Tidak hanya asal jadi memilih kepala daerah dan wakil kepala daerah.

Peringatan ini dilecutkan Ketua KPU Pusat Husni Kamil Manik pada peluncuran tahapan program dan jadwal penyelenggaraan pemilihan umum Gubernur dan Wakil Gubernur NTT tahun 2013, Senin (15/10) di Aula Eltari Kupang.

"KPU NTT jangan hanya pikir selesaikan tanggung jawab saja. Tetapi harus lebih baik. Saya harap KPU NTT harus tekad agar Pilgub NTT bisa berhasil dan dilaksanakan secara damai dan hasilkan pemimpin yang berkualltas. Tidak hanya asal jadi saja," pinta Husni.

Husni juga mengingatkan agar penyelenggara sedapat mungkin menekan terjadinya persoalan yang bisa berbuntut pada masalah hukum. Karena menurutnya hal itu hanya akan memperpanjang masalah hingga sampai di Jakarta. Akibatnya, pelaksanaan Pilkada bisa terhambat. "Jangan penetapan pemenangnya nanti dilakukan di Jakarta karena terjadi masalah dan diputuskan di Jakarta. Yang tetapkan pemenang harus KPU di daerah sendiri," kata Husni.

Untuk mewujudkan hal ini, kata Husni, carannya adalah dengan membangun komitmen bersama antara penyelenggara yakni KPU, pengawas (Bawaslu) dan peserta yakni partai politik.

Komitmen bersama ini, lanjut Husni, harus dilandasi semangat yang sama untuk menyukseskan Pilkada. "Sehingga sejak dilantik April 2012, kami minta semua daerah untuk profesional dan komit dengan membuat pakta integritas. Harus kerja profesional dan netral," kata Husni.

Dirinya juga mengharapkan Provinsi NTT harus menjadi contoh keberagaman dalam pelaksanaan Pilkada. Dia mengatakan, NTT sangat beragam namun sangat rukun sehingga itu pun harus terwujud dalam Pilgub NTT tahun depan.

Senada dengan dia, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya mengharapkan penyelenggara Pilgub NTT yakni KPU NTT untuk lebih menjamin proses Pilgub berjalan dengan aman dan nyaman yang memberi ruang bagi semua masyarakat untuk terlibat. "Saya harap KPU NTT juga konsisten dengan jadwal yang ada sehingga pelaksanaan Pilgub NTT benar-benar dilaksanakan dengan lancar dan aman," kata Frans Lebu Raya.

Ia juga mengharapkan dukungan partai politik untuk menyukseskan Pilhub NTT ini. "Sebagai pembina partai politik di daerah saya harap parpol siap diri secara baik. Sesuaikan proses internal partai dengan tahapan yang ada," ujarnya. Parpol juga diminta untuk membangun komunikasi yang baik dengan KPU.

Ia kembali mengingatkan persoalan krusial dalam hal ini data pemilih harus benar-benar diperhatikan. Sehingga dirinya KPU NTT melakukan verifikasi data pemilih dengan mengikuti aturan yang ada. "Data pemilih pemerintah sudah serahkan ke KPU NTT 1 Oktober 2012. Sehingga kita harap verifikasi data pemilih ini dilakukan secara baik sampai di pemilih masing-masing," katanya.

Pada kesempatan itu, Frans Lebu Raya yang akan kembali maju pada Pilgub 2013 berpasangan dengan Benny Litelnoni berharap semua elemen masyarakat di NTT untuk saling dukung dan bersinergi untuk menyukseskan Pilgub NTT. "Komitmen untuk membangun NTT tidak boleh berbeda.

Saling dukung dan bersinergi untuk sukseskan Pilgub aman, nyaman sehingga bisa jadi contoh bagi daerah lain," imbuhnya. Dia juga mengatakan, Pilgub hanya sebuah jalan dari sekian banyak jalan untuk membangun daerah. "Kita semua anak Flobamora. Pilihan boleh beda tetapi kita tetap bersaudara," katanya.

Untuk diketahui, Pilgub NTT akan dilaksanakan bersamaan dengan Pemilukada Sikka pada Arpil 2013 mendatang dengan anggaran senilai Rp 146 miliar lebih untuk dua putaran dengan jumlah pemilih 3.555.182 orang yang tersebar di 21 kabupaten/kota.
(ito/vit)