Selasa, 04 Maret 2008

POCO-POCO atau PICA-PICA

Calon gubernur dari Golkar belum final

KUPANG, PK--Ketua Pemenangan Pemilu Partai Golkar Propinsi NTT, Drs. Alexander Ena, M.Si, mengatakan, sampai dengan saat ini Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar belum memutuskan siapa calon gubernur untuk diusung dalam Pemilu Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) NTT.
"Kami (DPD Partai Golkar NTT, Red) masih menunggu keputusan DPP. Kalau keputusan sudah ada, maka akan dilaksanakan rapimdasus (rapat pimpinan daerah khusus) dan konvensi," kata Alex Ena saat dihubungi ke handphone-nya, Senin (3/3/2008).
Alex Ena yang mengaku berada di luar daerah, juga mengatakan sampai dengan saat ini DPP belum menyampaikan hasil survai Lembaga Survai Indonesia (LSI). Bagaimana dengan hasil LSI yang beredar? "Saya tidak tahu hasil LSI itu," jawab Alex Ena.
Pernyataan Alex Ena ini berbeda dengan apa yang disampaikan Ketua DPD Partai Golkar Propinsi NTT, Drs. Ibrahim Agustinus Medah. Saat ditemui di Hotel Cahaya Bapa-Kupang, Sabtu (1/3/2008), usai pelantikan Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) untuk Pilgub NTT, Medah menegaskan dirinya adalah calon gubernur yang diusung Partai Golkar untuk bertarung dalam Pilgub NTT 2008.
"Sesuai dengan hasil LSI (Lembaga Survei Indonesia) terakhir dan dari regulasi yang ada, tidak ada tawaran lagi. Saya menjadi kandidat yang dicalonkan dari Partai Golkar NTT untuk bertarung dalam Pilkada Gubernur NTT," tegas Medah saat itu.
Medah yang juga menjabat Bupati Kupang ini berulang kali menegaskan bahwa dirinya cagub dari Partai Golkar. "Sampai saat ini tidak ada aturan yang diubah. Saya menjadi kandidat yang diusung dari Golkar," katanya.
Wakil Ketua Biro Pemenangan Pilkada Partai Golkar NTT, Gustaf Jacob, S.H, juga menegaskan Golkar pasti mencalonkan Medah sebagai calon gubernur.
Menurut Gustaf, Rapimdasus Partai Golkar NTT yang akan digelar dalam waktu dekat tidak berkutat pada masalah pemilihan calon, tetapi sebagai forum deklarasi Medah sebagai cagub.
Pernyataan Medah ditanggapi VIP Center, lembaga pemenangan Viktor Bungtilu Laiskodat, SH - dr. Husein Pancratius menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, melalui Wakil Ketua VIP Center, Arif Rachman.
Kepada wartawan di VIP Center, Jalan El Tari I, Senin (3/3/2008), Arif Rachman mengatakan, pernyataan Medah berkarakter otoriter, mengultuskan diri sendiri sebagai cermin arogansi kekuasaan. "Pak Medah terkesan mengultuskan diri, karena sebagai Ketua Golkar jadi harus menjadi Cagub NTT," kata Arif.
Arif meminta agar Medah menyampaikan secara jujur tentang proses yang sedang terjadi di Partai Golkar. "Jangan melakukan pembohongan publik karena sampai dengan saat ini Pak Medah, Pak Viktor dan Pak Mell Adoe masih bakal calon. DPP Golkar belum tentukan siapa yang jadi calon," katanya.
Arif juga mengritik pernyataan Gustaf Yacob bahwa rapimdasus nanti hanya formalitas untuk deklarasi Medah. "Itu sungguh menyepelekan dan mengabaikan demokrasi yang sudah ada mekanisme bakunya dalam Partai Golkar," katanya.
Berbeda dengan Partai Golkar, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Propinsi NTT saat ini justru mulai membangun komunikasi dengan partai politik lain untuk membangun koalisi mengusung calon gubernur dan wakil gubernur, Drs. Frans Lebu Raya - Ir. Esthon Foenay (Paket FREN).
"Kami sudah dekati sejumlah partai, di antaranya PKB, PAN dan PDS. Soal figur sudah oke (maksudnya menyetujui FREN, Red) tapi belum ada kesepakatan. Belum final. Saat ini sudah mulai deal-deal," kata Sekretaris DPD PDIP Propinsi NTT, Nelson Matara, saat ditemui di gedung DPRD NTT, Senin kemarin.
Ditemui terpisah, Sekretaris Dewan Pimpinan Propinsi (DPP) Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan (PPDK), Drs. Beni Randu, mengatakan, PPDK sedang menjaring calon gubernur dan wakil gubernur. Beberapa figur yang sudah melamar yaitu Gaspar Parang Ehok, Beni Bosu dan Jonathan Nubatonis.
"Figur-figur ini nanti dikonsultasikan ke DPN (Dewan Pimpinan Nasional) PPDK. Siapa yang diputuskan DPN, nanti kita amankan. Diharapkan, keputusan DPN sesuai dengan aspirasi masyarakat," kata Beni Randu. (aca)

KOMENTAR Web Organizer :

Hendaknya kita sadar kalau rakyat sedang mencermati kelakuan para dalang politik dan birokrat.Penghukuman rakyat akan segera tiba,suara ditangan rakyat.Manfaatkan peluang dan jabatan tanpa bisa membedakan RUANG dan WAKTU, KAPAN dan APA yang seharusnya di bicarakan/bertindak merupakan PENGAKUAN TIDAK SADAR KARAKTER CALON PEMIMPIN DAN PENDUKUNG terhadap rakyat.Ini yang dinamakan RELA DITUSUK 1000 DURI DEMI SEKUNTUM MAWAR???.NTT buth pemimpin yang meliki AUTHORIZE (memiliki kekuasaan dan sekaligus kewibawaan).Bagaimana menyikapi fenomena ini???? yahhhhhhh KALAU SUNGAI LAGI BANJIR JANGAN MANCINGLAH....IKAN PASTI MENEPI,tidak percaya????

Minggu, 02 Maret 2008

Bung MEDAH PROKLAMASI-SAYA CALON GOLKAR

Medah : Saya cagub dari GolkarKUPANG, PK--
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I Partai Golkar Propinsi NTT, Drs. Ibrahim Agustinus Medah menyatakan, dirinya menjadi calon gubernur (cagub) NTT yang diusung Partai Golkar untuk bertarung dalam Pemilu Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) NTT 2008."Sesuai dengan hasil LSI (Lembaga Survei Indonesia) terakhir dan dari regulasi yang ada, tidak ada tawaran lagi. Saya menjadi kandidat yang dicalonkan dari Partai Golkar NTT untuk bertarung dalam pilkada Gubernur NTT," tegas Medah, saat ditemui di Hotel Cahaya Bapa - Kupang, Sabtu (1/3/2008), usai pelantikan Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) untuk Pilgub NTT.Medah yang juga menjabat Bupati Kupang ini berulang kali menegaskan bahwa dirinya cagub dari Partai Golkar. "Sampai saat ini tidak ada aturan yang diubah. Saya menjadi kandidat yang diusung dari Golkar," katanya.Ditemui di Kantor Bupati Kupang, Wakil Ketua Biro Pemenangan Pilkada Partai Golkar NTT, Gustaf Jacob, S.H mengatakan, "Golkar pasti mencalonkan Medah sebagai calon gubernur."Menurut Gustaf, rapat pimpinan daerah khusus (Rapimdasus) Partai Golkar NTT yang akan digelar dalam waktu dekat tidak berkutat pada masalah pemilihan calon, tetapi sebagai forum deklarasi Medah sebagai cagub.Menyinggug status Medah sebagai tersangka dalam kasus kapal ikan, Gustaf mengatakan, hal itu bukan merupakan kendala. Gustaf menyatakan, penetapan status tersangka tidak ada karena secara hukum belum ada izin dari presiden untuk memeriksa Medah. "Bagaimana tidak ada izin untuk pemeriksaan lalu ditetapkan sebagai tersangka. Golkar tentu juga telah siap untuk masalah seperti itu," kata Gustaf.Belum diketahui apakah hasil LSI terakhir yang dimaksudkan IA Medah, sama dengan hasil LSI yang beredar, sebagaimana dilansir Pos Kupang (Kamis, 21/2/2008). Hasil LSI yang dilansir Pos Kupang menyatakan, Victor Bungtilu Laiskodat, S.H, anggota DPR RI yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Penasehat Partai Golkar NTT, unggul popularitas dari Drs. Ibrahim A Medah (Ketua DPD Partai Golkar NTT) dalam survai bakal calon gubernur NTT. Dari enam indikator yang digunakan dalam survai, Laiskodat unggul lima indikator atas Medah. Lima indikator tersebut adalah kemungkinan terpilihnya kandidat (15,6 persen), image/jujur (8,9 persen), media sosialisasi dengan menggunakan kalender/stiker/poster/selebaran (53,7 persen), media sosialisasi dengan menggunakan spanduk/baliho (51,3 persen) dan indikator awareness (kenal) terhadap tokoh (55,2 persen). Laiskodat juga unggul atas Drs. Frans Lebu Raya (Wakil Gubernur NTT/calon gubernur NTT dari PDIP) pada indikator media sosialisasi dan awareness. Itu lebih dikarenakan Laiskodat sangat gencar dalam pengerahan alat sosialisasi. Medah unggul atas Laiskodat pada indikator tentang top of mind (Medah 10,4 persen; Laiskodat 10,2 persen).Sementara Lebu Raya unggul atas Laiskodat pada indikator kemungkinan terpilihnya kandidat. Setelah dilakukan sebanyak lima kali, suara Lebu Raya meningkat relatif lebih besar dibandingkan kandidat lain. Lebu Raya juga unggul pada indikator top of mind (17,8 persen).Hasil LSI tersebut dibantah secara berturut-turut oleh Cyrilus Bau Engo (Sekretaris DPD I Partai Golkar NTT), Drs. Hendrik Rawambaku (Wakil Ketua DPD I Partai Golkar NTT) dan Gustaf Jacob, S.H (Wakil Sekretaris DPD I Partai Golkar NTT).Ketiganya mengatakan, hasil LSI yang dikabarkan telah beredar masih sebatas isu karena sampai saat ini DPD Partai Golkar NTT belum menerima hasil LSI. "Isu itu dikembangkan berdasarkan kepentingan- kepentingan subyektif, dan untuk menguntungkan orang lain. Karena, sampai saat ini, fakta hasil LSI belum ada," kata Gustaf, saat itu.Bantahan terakhir datang dari Koodinator Wilayah Partai Golkar NTT, Enggar Lukito. "DPP belum juga mengirim hasil LSI kepada DPD (maksudnya Partai Golkar NTT). Lagi pula, hasil LSI itu bukan untuk dipublikasi," kata Enggar saat dihubungi ke hand phonenya, Selasa (26/2/2008). (ely)

KOMENTAR Web Organizer:
Bila Hasil LSI tetap jadi acuan terhadap siapapun maka kesannya tetap :Parpol apalagi partai sekaliber Golkar telah kehilangan percaya diri untuk dengan sebaga potensi dan kemampuan sereta sekaligus hak konstitusionalnya kalah PAMOR dibanding Lembaga Survay (Swasta).Ini namanya melewati jembatan Gantung. Sekaliber apapun suatu kapabilitas Lembaga Survay bila ditinjau dari sudut penelitian,maka pengalaman survay (suvay 1 calon presiden kemarin)dan survay tidak lebih dari 100 kali sample maka terlalu NAIF bila MENDUGA keinginan rakyat.khususnya simpatisan Golkar untuk lebih memfaforitkan salah satu calon. Artinya Pengakuan tersebut merupakan pengingkaran terhadap fungsi daan peranan partai....jadi mau di bawa kemana rakayat kita ...wah Gimana Bung ajalah....




Sabtu, 01 Maret 2008

BIJAK tampak TAK BERGEJOLAK


Mayjen Purn (marinir) Beny Balukh
dan Usman Gumantik Abubakar ( Jhony Abubakar)
PAKET "BIJAK"


Kehadiran PAKET "BIJAK" sebagai salah satu bakal calon pasangan Gubernur dan wakil gubernur di NTT adalah merupakan sutu kehadiran yang dilandasi kesadaran atas dasar panggilan hati nurani untuk "MENGABDI" bagi daerah dan rakyat NTT. Kehadiran ini juga dilandasi oleh prinsip-prinsip yang mengacu pada pandangan rasionalitas dan juga sekaligus sentimentil serta moral atas apa yang telah,sedang dan akan terjadi di bumu Flobamora.Pijakan Etis,Etos dan Estetis dalam berdemokrasi merupakan simpul dalam memboboti demokrasi yang selama ini masih terjebak pada " demokrasi prosedural " tanpa mengundang peran serta rakyat (kepentingan rakyat)dengan apa yang di namakan "demokrasi dialogis"Ini yang kami namakan "jalan lain demokrasi menuju NTT baru" yang merupakan pendekatan deliberalisasi.Peta baru menuju demokrasi di NTT yang akan di tawarkan ini , diyakini akan mampu membawa model demokrasi prosedural yang saat ini nyata-nyata hanya membawa kebuntuan demokrasi dan segala implikasinya bagi pembangunan di NTT.
Membangunan "kesepakatan"dengan instrumen-instrumen politik di NTT (termasuk Parpol) asasinya adalah transaksi politik yang berbasis pada hubungan "mutualistik" yang merupakan titik temu (simpul) dari kepentingan-kepentingan rakyat NTT.Inilah transaksi politik yang akan dan harus kiranya menjadi komitmen serius para agen demokrasi di NTT.
Paket "BIJAK" menyadari bahwa sesungguhnya jalan dan berkembangnya pemerintahan di era-Reformasi (era-bingung) yang diboboti erademokratisasi dan desentralisasi ,politik sedang dan telah berjalan di luar dengan apa yang dinamakan "di luar agenda kepentingan rakyat" sehingga sampai dengan saat ini korelasi positif antara demokrasi dengan kepentingan rakyat tidak lahir menjadi fakta atau kenyataan (Lahir diluar rahim)
Keterpanggilan,kemauan dan keberanian paket pasangan ini untuk mencalonkan diri tampak tidak hanya mengandalkan kemampuan dan pengalaman tetapi yang ingin kami tawarkan adalah "menjadi pemimpin yang lahir dari ruang hati rakyat".Karena itu menjadi logis bila pencalonan ini hendaknya tidak hanya berasal dari parpol "atas nama" mekanisme demokrasi tetapi lebih dari pada itu "dicalonkan oleh rakyat sebagai pemilik kedaulatan tertinggi". Demikianlah apa yang dapat penulis tangkap dari sinyal-sinyal fisi dan misi paket ini yang mana sampai dengan saat ini masih terbungkus rapi dalam kotak "PANDORA".
Terkait dengan semakin mepetnya waktu Pilgub,tampak juga pasangan ini menanggapinya dengan PD - PD saja,tidak terlalu tampak hiruk pikuk yang terlalu berlebihan di Markas kubu BIJAK ini.Dalam hati penulis berguman 'dalamnya laut bisa diduga namun dalamnya hati tak berani kuduga....:

Max Umbu

CatatanHasil Kunjungan Ke markas BIJAK


Rabu, 27 Februari 2008

IDENTIFIKASI MARKA-MARKAS KORUPTOR

IDENTIFIKASI MARKA-MARKAS KORUPTOR


Statement atau pernyataan "perang" terhadap korupsi harus di isi dan diboboti STRATEGI,TEKNIK dan TEKNIS perang.Banyak pilihan yang dapat dipilih,namun bicara soal kecanggihan dan tercapainya sasaran/tujuan maka 2 (dua) Strategi perang yang umum.

1) Perang KONVENSIONAL (Perang Gerilya)
2) Perang MODEREN (Melibatkan segala daya potensi-efisien,efektif,murah-meriah termasuk peranan teknologi komunikasi).


Pembagian tugas terhadap sumber daya manusia (anggota/serdadu-serdadu perang) amat sangat penting.Tentu,disini ada pasukan elit (pasukan khusus) yang mempunyai kemampuan akselerasi dan daya tembus ruang (tembok birokrasi) dan ruang waktu (bekerja siang dan malam-all out).

Salah satu yang tidak kurang pentingnya,bagaimana melumpuhkan komunikasi yang sudah terbina,agar konsolidasi yang selalu di bangun dari menit-kemenit oleh para koruptor dapat di putus/dikacaukan sembari melakukan penataan data base para koruptor (KPK hanya akan menindak lanjuti data lengkap dan perlindungan saksi menjadi perhatian dan dipastikan).

MARKA (tembok penghalang/deking/beking) yang diduga keras menjadi andalan perlu di runut jejaknya.


Beberapa MODUS KORUPSI yang sangat lihai :


"Membuat akta /sertifikat tanah kritis/subur,dengan NJOP "tiggi dan tidak rasional"yang di bekingi SK Pemda (bupati,dll) utnuk mengeruk uang daerah melalui BANK DAERAH"Modus ini kerap tidak terasa/tidak sadar atau bahkan sadar dan terencana.

Masalah serius yang timbul : Investor akan berpikir 100 kali untuk berinvestasi,karena hargatanah yang berlipat-lipat (disini birokrat telah menjadi tembok penghalang investasi yang sedang digalakkan pemerintah pusat).Masyarakat perlu segera siuman dari masalah ini.


Jadi,perlu dilakukan analisis ulang terhadap perda/SK yang diduga bermasyalah (berpotensi/memiliki kecenderungan 'mengharamkan investasi").



MAX UMBU.
SALAM

Selasa, 26 Februari 2008

Tentang fantasi
Pos Kupang-26-02-08
Sebuah pertengkaran yang menyembuhkan
Oleh Marsel RobotDosen Undana Kupang, mahasiswa Program Doktor Ilmu Komunikasi Unpad
BandungSALAH satu perjumpaan paling asyik dan teramat nikmat antara sastrawan dan pengamat sastra adalah pertengkaran yang sengaja diciptakan di antara mereka. Pertengkaran menjadi kebiasaan eksentrik dan dibutuhkan untuk menyuburkan kreativitas dalam bersastra. Itulah sebabnya, mereka tidak banyak yang gemuk dan terkadang 'kemomos' lantaran banyak waktu dipakai merenung dan mencari argumentasi untuk membangun debat demi debat, hasil debat didebatkan lagi. Gara-gara semacam itu terjadi antara AG Netti dan Maria Matildis Banda beberapa waktu lalu (Pos Kupang, 16 Januari 2008). Di bawah artikel berjudul agak arogan: "Marginalia atas opini Maria Matildis Banda: Seputar Imajinasi, Fantasi dan Khayalan", Netti menyerang tulisan Maria Matildis Banda yang dimuat dalam buku 15 Tahun Pos Kupang. Tulisan Matildis Banda dalam buku itu berjudul: "Imajinasi dan Hasrat Seorang Jurnalis" (Catatan Tentang Jurnalisme Sastra). Saya menyebut pertengkaran itu sebagai pertengkaran 'di kamar dalam', oleh karena topik pertengkaran (imajinasi, fantasi, dan khayalan) terlalu eksklusif untuk digelar di meja publik, tetapi teramat keren dalam komunitas sastrawan, peminat dan penikmat sastra. Meski dalam ranah lain fantasi banyak pula digunakan.Baiklah, sebelum memasuki daerah sengketa antara Netti dan Banda, saya ingin menukilkan kedua orang yang saya kagumi ini. Saya tidak mengenal Netti secara fisik, tetapi saya sangat mengenalnya melalui telaahan sastra yang dilakukannya pada beberapa media surat kabar. Saya mengaguminya karena uraiannya sangat bernas, sistematis, dan bahkan metodis. Pengetahuan kesastraannya begitu endemik dalam aula kognisinya. Itulah sebabnya, ia mampu merantau jauh ke dalam sebuah sajak sampai pada sum-sum sajak itu. Saya mengakui itu, ketika ia menelaah beberapa sajak saya yang dimuat di Mingguan Dian (Ende) beberapa tahun lalu. Dia memang penggarap setia di ladang yang disebut sastra, sebuah bidang kajian yang gersang, tapi dia kerasan menikmati dunia yang sepi itu. Saya sangat sulit menemukan sosok seperti Netti yang bertahan hidup dalam daerah gersang seperti itu, sementara karya sastra bukan merupakan kebutuhan dalam masyarakat NTT yang masih sibuk mempertahankan taraf hidup dan belum bergerak untuk meningkatkan taraf hidup. Sedangkan Maria Matildis Banda adalah seorang sastrawati yang saya kagum bukan hanya karena sering menempelkan latar lokal pada tema besar: 'perarakan sosial' dari old society ke modern society dalam cerpen dan novelnya. Akan tetapi, yang lebih penting pula bahwa ia sanggup berkarya dengan tidak harus melalui Jakarta atau melalui Majalah Horison yang dianggap Sungai Jordan tempat pembabtisan sastrawan. Ia seorang dosen sastra Udayana (Bali), kemudian pindah ke FKIP Undana Kupang dan mengajar pada Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia tempat saya juga mengajar. Ia juga redaktur sastra Harian Umum Pos Kupang. Kebiasaan Maria Matildis Banda menggarap daerah keilmuan yang sarat tertib ilmiah ikut memberikan karakteristik literer cerpen dan novelnya. Gaya realisme formal, bahkan aroma deskripsi kadang begitu kental. Demikian pula, jarak fiksi dan fakta demikian dekat. Cerpen dan novelnya begitu apik dalam kesederhanaan bentuk. Ia memang bukan ahli ngobrol seperti Putu Widjaya, Danarto, Gerson Poyk, yang sering menelantarkan pembaca awam. Ia menulis cerpen dan novel dalam format literer konvensional, karakter-tokoh-tokoh ceriteranya hitam-putih sehingga mudah dipahami. Pokoknya ia tidak ingin menyiksa pembaca. Tetapi, itu tidak berarti cerpen atau novel Maria M Banda hanya sekadar album sosial yang berisikan fakta yang difiktifkan, atau lamunan sosial yang diberi baju fiksi. Kualitas cerpen Maria M Banda bukan pada lagak literer, tetapi pada tema dan warna lokal yang disodorkannya. Tentang fantasi Baiklah, perkenankan saya memasuki lokus pertengkaran dengan mengutip kembali konsep fantasi yang diutarakan oleh Matildis Banda sebagaimana dikutip oleh AG Netti dari buku 15 Tahun Pos Kupang sebagai berikut: "Fantasi sama dengan khayalan yang tidak nyata. Tidak masuk akal, dibuat-buat, mimpi yang tidak mungkin menjadi kenyataan. Fantasi adalah gambaran semu tentang sesuatu yang tidak bisa diubah menjadi kenyataan. Berfantasi sama dengan mengandai-andai yang hanya menimbulkan rasa lelah atau membawa si pengandai tenggelam dalam khayalan-khayalan yang indah berbunga-bunga. Fantasi adalah daya yang menghasilkan khayalan, berkaitan dengan gambaran obyek yang tidak mungkin dan memang tidak ada dalam kenyataan."Netti membantah pendapat itu. Merujuk pada pendapat sarjana Prancis Roger Fretigny dan Andre Viler, Netti mengatakan, fantasi merupakan kesadaran imajinatif. "Tanpa fantasi, maka daya pemikiran kita yang kerja secara diskursif akan menjadi pincang dan terkurung dalam sebuah sistem yang tertutup dan beku." Dengan beberapa kutipan lain sebagai pisau penodong, sebenarnya Netti sekadar meyakinkan bahwa fantasi adalah suatu kesadaran imajinatif, fantasi itu mewujud, dapat diwujudkan dan berguna. Jadi, fantasi merupakan proses mental yang paling dasar dalam kesadaran imajinasi manusia. Fantasi, dengan demikian, bukan daya yang menghasilkan khayalan, berkaitan dengan gambaran obyek yang tidak mungkin dan memang tidak ada dalam kenyataan sebagaimana dijelaskan Maria Matildis Banda.Singkatnya, Bila Maria M Banda mengatakan bahwa fantasi merupakan sesuatu khayalan yang tak akan terwujud, ilutif, sia-sia dan percuma, maka Netti mengatakan bahwa fantasi merupakan kesadaran imajinatif, ruh yang mempunyai daya hidup dan mampu memfasilitas energi intelektual manusia. Fantasi, oleh karena itu, suatu yang mewujud, dan dapat diwujudkan. Hemat saya, baik Netti maupun Banda hanya terlalu hemat berpikir atau tak terbiasa berpikir hermeneutis yang berusaha memandang persoalan dalam dialektika yang utuh di mana setiap unsur yang berbeda memberikan kontribusi terhadap keutuhan makna fantasi. Terasa ada yang hilang dari penjelasan mereka. Dan yang sial bahwa Netti tidak menyadari bahwa penjelasan mereka saling mendukung dan tidak ada perbedaan yang substansial. Keduanya hanya memegang dua sobekan dari sebuah kertas yang utuh. AG Netti benar ketika ia berangkat dari terminologi atau konsep fantasi sebagai metabolisme pikiran. Hakekat fantasi adalah kesadaran imajinasi. Sebagai kesadaran (imajinatif), fantasi merupakan proses mental paling inti dan paling kreatif dalam pikiran manusia, dan fantasi adalah khas manusia. Manusia hidup dalam lingkungan fantasi, dan setiap manusia mampu berfantasi baik tingkat fantasi rendah (low fantasy) maupun fantasi tinggi (high fantasy). Kemampuan manusia berfantasi yang membedakannya dengan binatang. Herder, anjing kesayangan Anda diajari cara tertentu untuk merespon. Katakan, setiap kali hendak memberikan makan kepadanya, Anda akan mengeluarkan bunyi: "ooo..." lalu disusul dengan menyodorkan piring yang berisikan makanan. Herder pun datang mendekati Anda. Kemudian ia melahap makanan yang Anda berikan. Setiap kali bunyi "ooo... " maka Herder selalu memberikan respon yang sama. Perilaku anjing itu adalah bentuk respon dari stimulus kata "ooo..." yang selalu disertai dengan tindakan memberikan makanan kepadanya. Dalam konteks ini, perilaku Herder bukan berdasarkan fantasi. Karena, ketika Anda mengeluarkan bunyi "ooo..." ia pun datang mendekati Anda dan Anda menghantam batok kepala Herder dengan palu, Herder pun tewas di depan Anda, lalu dijadikan erwe (daging anjing yang telah dibumbui dan siap disaji), lantas disuguhkan kepada tamu Anda. Jadi, berfantasi adalah proses mental yang sangat mendasar dan berpusat pada otak kanan manusia. Karena itu, Kenneth Burke, sosiolog penganjur teori Draturgi, membedakan tindakan manusia dan binatang. Menurut Burke manusia beraksi, sedangkan binatang bergerak. Beraksi berarti melibatkan fantasi, sengaja dan mempunyai maksud. Sedangkan gerakan bisa juga bermakna, bisa juga tidak, dan seringkali tidak bertujuan. Berfantasi adalah proses mental yang sengaja, kreatif, bertujuan dan bermakna. Maria Matildis Banda juga benar ketika ia mengkaji fantasi berangkat dari hasil karya. Fantasi memang sesuatu yang tidak masuk akal. Kenyataan dalam Fantasi memang sulit dijangkau. Kenyataan dalam fantasi mengalami ditorsi dan distance dengan kenyataan empirik. Pada akhirnya kenyataan fantasi adalah kenyataan fantasi. Suatu kenyataan yang dikonstruksi melalui fantasi yang kreatif, tetapi tak dapat dialami.Mari kita masuk ke 'kamar dalam' (sastra) di mana dua orang ini berdebat. Dan saya memulai masuk lokus sastra dengan menenteng ensiklopedi online Wikipedia. Ensiklopedi Wikipedia memberikan pengertian, fantasi is genre that uses magic and other supernatural forms as a primary element plot, theme, and/or setting. Jadi, unsur magik dan bentuk-bentuk supranatural yang tidak masuk akal menjadi elemen dasar dalam membangun baik plot (alur ceritera) maupun tema-tema dalam sebuah karya sastra. Unsur utama fantasi ialah ketidakmasukakalannya dan suddenly (ketiba-tibaan). Makhluk Poti Wolo yang difantasikan sebagai makhluk berkaki kuda berwajah monster, berbuluh lebat-hitam adalah makhluk yang hanya ada dalam fantasi orang Manggarai sebagai makhluk yang berurusan dengan mencabut nyawa manusia secara acak. Dalam kenyataannya makhluk Poti Wolo itu tak ada. Tetapi, fantasi makhluk Poti Wolo sangat berpengaruh terhadap kepercayaan orang Manggarai sehingga pada jam tertentu tidak boleh keluar rumah karena makhluk itu akan lewat. Ini sebuah fantasi yang dikonstruksi oleh pikiran kreatif nenek moyang orang Manggarai.Baiklah, saya ingin mempertemukan Maria Matils Banda dengan AG Neti dalam sebuah ilustrasi yang lain. Dalam sebuah situs internet dilukiskan seorang gadis telanjang, berambut pirang dan panjang, dua payudara yang menjulur menggulung awan, gadis itu mengendarai kuda berekor naga, kuda itu berlari di udara seolah turun gunung-gunung awan dan menuju bulan setengah bulat dibalut korona. Sangat jelas bahwa karya fantasi ini lahir dari pergumulan pikiran kreatif yang sangat intens, dibentuk melalui kesadaran yang mendalam dan kepekaan estetis yang luar biasa dari seseorang. Bukan sekadar kerja asal-asal untuk menghasilkan kesia-siaan. Di sinilah Netti berdiri. Akan tetapi, keseluruhan karya lukisan itu adalah kenyataan yang tidak mungkin dicapai, khayalan semata. Dan itulah kenyataan fantasi. Sampai maut menjemput Anda, tak akan ada payudara gadis mana pun yang bisa menggulung awan. Sampai kapan pun kuda tidak akan berlari di udara menuruni gunung-gunung awan dan seterusnya. Di sinilah posisi Maria Matildis Banda berdiri. Ini adalah kenyataan fantasi dikonstruksi oleh pikiran yang kreatif. Sebuah kenyataan fantasi sengaja dikonstruksi agar didekonstruksi (ditelaah) oleh orang lain. Sebagaimana hasil karya (musik, film, drama, dan sastra), fantasi dikonstruksi kreator dengan tujuan didekonstruksi oleh penikmat. Perjumpaan Netti dan Banda menjadi lebih mesrah jika keduanya berpikir lebih intens ialah bahwa obyek fantasi adalah kenyataan, kenyataan yang dialami. Dengan kata lain, sublimitas fantasi terletak pada obyek yang disubyektivikasikan dan dikreatifkan. Seorang gadis, dua buah payudara, kuda, awan, bulan adalah obyek yang dapat diindrai, suatu kenyataan empirik. Akan tetapi, proses mental seseorang mengkonstruksi ornamen-ornamen yang diambil dari sampah-sampah kenyataan itu menjadi sebentuk fantasi dan jadilah kenyataan fantasi yang memang tidak masuk akal, dan tidak dapat dicapai. Dalam karya sastra, terutama sastra klasik, kisah-kisah fantasi selalu mengandung unsur sihir, horor, monster, dewa-dewa, pahlawan atau kesatria. Jalan ceritera dan latar yang tidak nyata. Kejadian-kejadian dalam ceritera sebenarnya tidaklah masuk akal. Tetapi kejadian tersebut mengikuti alur magis dan suddenly (ketiba-tibaan). Legenda Batu Ba Daun di Larantuka mengisahkan seorang ibu yang begitu sabar meski pada akhirnya sebagai manusia ia mengelak dari kesabaran itu. Anak sang ibu yang berusia kurang lebih dua tahun kepalang rewel. Ia meminta ikan, setelah dikasih ikan meminta udang, setelah dikasih udang, meminta tripang dan seterusnya. Suatu saat, ibunya tak sanggup lagi melunasi permintaan anaknya itu. Lalu, sang ibu mengambil kulit keong di tepi pantai untuk meneteskan air susunya. Air susu itu dititipkan kepada anaknya yang agak besar. Kepada sang anak, sang ibu berpesan: "Nak, kalau adikmu menangis dan haus, berikan susu ini." Tanpa mengucapkan selamat tinggal, sang ibu pergi meninggalkan dua anaknya. Pergi jauh dan teramat jauh. Tapi, tiba-tiba dua anaknya membuntut. Semakin dibuntut semakin jauh jarak antara mereka. Sang adik yang merengek di gendongan kakaknya meminta ibu berhenti. Tapi, ibu tak menoleh, apalagi berhenti. Ketika sampai di Batu Ba Daon ia mencemplungkan diri, dan leher batu itu mereguknya, yang tertinggal hanya rambut sang ibu yang terjuntai di bibir batu. Kedua anaknya meratapi sambil mengelus rambut ibunya. Air susu ibu di kulit keong tetap penuh, setiap kali si kecil minum dan habis, maka air susu ibu menggenang lagi pada kulit keong hingga penuh dan seterusnya. Tak banyak orang yang mencoba secara kualitatif mengkorelasikan fantasi dalam legenda Bato Ba Daon ini dengan misalnya melankolisme lagu-lagu Flores Timur, dan lagu-lagu mereka yang selalu mengandung syair yang berhubungan dengan laut, penyesalan nasib, dan selalu mengajak bale nagi (pulang kampung). Apakah orang Flores Timur sampai hari ini mencari ibu mereka? Dan masih banyak lagi kisah lisan yang menggambarkan fantasi nenek moyang kita. Dalam kazanah sastra dunia kita mengenal kisah Mahabrata, kisah Odisus, kisah Ramayana, kisah Seribu Satu Malam dan lain-lain.Dalam sastra tulis, fantasi sesungguhnya muncul ketika George MacDonal, penulis asal Skotlandia dalam novelnya berjudul: The Princess and the Goblin dan satu lagi berjudul Phantastes. Karya-karya MacDonal memberikan inspirasi kepada penulis- penulis lain terutama JRR Tolkien dan CS Lewis. Bahkan pada abad rasional ini kekuatan fantasi justru menguasai dunia. Lihat saja sukses JK Rowling pengarang novel. Ia menjadi wanita terkaya dunia karena fantasinya sangat memukau dalam buku-buku Harry Potter. Beberapa film yang diambil dari ceritera Harry Potter mencapai rating tertinggi, tertutama film The Lord of the Rings yang disutradarai oleh Peter Jackson. Sejak tahun 1975 para penerbit, seniman, sastrawan, kaum intelektual yang tertarik pada fantasi mengadakan konferensi tiap tahun di setiap kota berbeda. Pada acara ini biasanya diberikan penghargaan terhadap karya fantasi yang terhebat. Sayangnya, serangan Netti menjadi rendah mutunya ketika menyerempet hal yang bersifat merendahkan profesi, terutama ketika Netti terlalu arogan dengan sejengkal argumentasi dan memamerkan pustaka lamanya dengan mengatakan kepada Maria Matildis Banda: "dengan demikian, teori sastra Maria Matildis Banda tentang imajinasi, fantasi, khayalan pada gilirannya mencederai citra Maria Matildis Banda sendiri sebagai dosen sastra." Padahal, uraian Netti tidak lebih benar dari argumetasi Maria Matildis Banda. Lebih ngawur lagi ketika Netti mengatakan bahwa tulisan Maria Matildis Banda dapat mengurangi kualitas buku 15 Tahun Pos Kupang. Ah, yang benar Bung! Jangan terlalu rajin berpikir generatif, nanti terperosok ke dalam cara berpikir masif. Sedangkan uraian Anda hanya satu sobekan yang tak lengkap tentang fantasi dan hanya menjadi lengkap jika digabungkan dengan sobekan yang dipegang oleh Maria Matildis Banda. Meski demikian, bagi saya, inilah pertengkaran yang menyembuhkan. Sebab, argumentasi kedua orang ini secara substansial saling melengkapi. Perbedaan tidak selalu bertentangan, dan dua orang yang terlibat berdebat hanya cara khas untuk merampungkan keutuhan mengenai konsep fantasi. Tetapi, pertengkaran ilmiah seperti ini harus keluar dari lokus yang melecehkan dan berusaha mengurangi hasrat tendensius. Saya kira Bung Netti hanya sengaja lupa pepatah kuno: "dalam ilmu silat tidak ada yang juara dua, dan dalam silat ilmu tidak ada yang juara satu." *

SOGOK-GOSOK-GASAK -GESEK awas GOSONG MAIN MATA UANG DI PILKADA/PILGUB NTT

* Kontribusi calon ke parpol Dibicarakan setelah penetapanKUPANG, PK--25-02-08

Partai Politik (Parpol) tidak menetapkan secara khusus besarnya kontribusi dari calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. Angka nominal uang disesuaikan dengan kemampuan calon. Pembicaraan mengenai hal itu dilakukan setelah keluarnya surat rekomendasi atau surat keputusan penetapan sebagai calon yang diusung parpol dimaksud dalam pemilu kepala daerah (pilkada). "Kesepakatan tidak pada angka tapi ada kontribusi calon. Hal itu dibicarakan dengan calon sesuai dengan kemampuan mereka. Kontribusi akan dibicarakan detail ketika bakal calon diakomodir. Kalau pada saat mendaftar tidak dipungut biaya," kata Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Pesatuan Pembangunan (PPP) Propinsi NTT, Abdul Syukur Dapabeang, saat ditemui di Sekretariat Gerakan Pemuda Anshor di Kelurahan Airmana, Kupang, Minggu (24/2/2008).Dapabeang mengakui, calon bupati dan wakil bupati, Drs. Landoaldus Mekeng dan Drs. Fransiskus Sura (paket Mesra) memberi kontribusi Rp 100 juta karena mendapat PPP sebagai pintu masuk ke Pilkada Sikka."Uangnya diberikan setelah mereka mendapat rekomendasi. Selanjutnya, uang itu dibagi dengan komposisi 60 persen untuk DPC PPP Sikka dan 40 persen untuk DPW PPP. Uang itu akan dipergunakan untuk konsolidasi partai dan memperkuat mesin politik partai. Jadi, tidak dipergunakan untuk kepentingan pengurus orang per orang. Semua sangat terbuka," katanya.Pembicaraan harga pintu pada pilkada gubernur, Dapabeang mengatakan, itu ada tapi yang berwenang menentukan adalah Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PPP. "Kontribusi akan dibicarakan detail ketika bakal calon diakomodir," ujar Dapabeang.Ketua Harian Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrat (DPD PD) Propinsi NTT, Ir. M Viktor Manurung, M,Sc, mengatakan, Partai Demokrat tidak memungut biasa sepersenpun dari bakal calon gubernur dan wakil gubernur yang mendaftarkan diri. "Tidak ada kewajiban dari calon saat mendaftar. Memang ada janji-janji politik calon tapi itu lebih untuk membesarkan Partai Demokrat jika yang bersangkutan terpilih kelak," kata Manurung saat dikonfirmasi via telepon, Minggu sore. Partai Demokrat telah menetapkan Beny K Harman dan Drs. Alfred Kasse menjadi calon gubernur dan wakil gubernur. "Pak Beny itu adalah kader Demokrat juga. Jadi partai pungut biaya," katanya.Wakil Sekretaris DPD Partai Golkar NTT, Gustaf Jacob, S.H, menegaskan, Partai Golkar tidak memungut biaya apapun bagi setiap kandidat yang ingin mendaftar menjadi calon gubernur dan wakil gubernur.Gustaf yang ditemui di kantornya di Jalan A Yani, Kelurahan Oeba, Kupang, Sabtu (23/2/2008), mengatakan hal ini untuk mengklarifikasi informasi yang berkembang bahwa ada oknum calon Gubernur NTT dari Partai Golkar yang meminta uang kepada seorang pengusaha di Kota Kupang sebesar Rp 200 juta dengan alasan untuk dipakai membayar biaya pintu masuk di Partai Golkar. Gustaf tidak menyebut nama oknum calon gubernur dan nama pengusaha tersebut.Hasil SLI hanya isuMengenai hasil survai Lembaga Survei Indonesia (LSI) menyangkut nama-nama bakalo calon gubernur NTT dari Partai Golkar, Gustaf mengatakan, hasil SLI yang selama ini disebarluaskan hanya sebatas isu, dan isu tersebut tidak benar. "Hingga saat ini DPP Partai Golkar belum mengiri hasil SLI ke DPD I Partai Golkar NTT. Sesuai prosedur, kalau hasil SLI tersebut sudah diterima dari DPP Partai Golkar barulah DPD I Partai Golkar NTT mengumumkan ke publik hasil SLI tersebut," kata Gustaf.Gustaf menjelaskan, sesuai prosedur partai setelah diumumkan hasil SLI oleh DPD I Partai Golkar NTT baru dibuka pendaftaran bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTT di DPD I Partai Golkar. Setelah pendaftaran bakal calon, lanjutnya, baru dilakukan konvensi untuk mencari figur mana yang keluar sebagai calon gubernur dari Partai Golkar NTT. "Jadi, perlu saya tegaskan lagi bahwa hasil SLI yang selama ini dihembuskan ke publik adalah tidak benar. Itu hanya isu saja. Karena sampai saat ini pihak DPP Partai Golkar belum mengirim hasil SLI," tegas Gustaf. (aca/mar)

TIM SELEKSI PANWAS PILGUB NTT-DIBENTU-MENEMUKAN BENTUK

Dibentuk, tim seleksi Panwas Pilgub
KUPANG, PK --26-02-08

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Propinsi NTT, Senin (25/2/2008), membentuk tim seleksi Panitia Pengawas (Panwas) Pemilu Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) NTT. Tim seleksi terdiri dari unsur-unsur fraksi Dewan.Anggota Tim Seleksi Panwas Pilgub NTT, adalah Marthen Darmonsi (Fraksi Partai Golkar), Yohanes Sehandi (Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan/PDIP), Daniel Taolin (Fraksi Partai Penegak Demokrasi Indonesia/PPDI), Petrus Jeer (Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa/PKB), Hendrik Bire (Fraksi Partai Damai Sejahtera/PDS) dan Yahidin Umar dari Fraksi Gabungan (PPP). Tim seleksi diumumkan Ketua DPRD NTT, Drs. Mell Adoe beberapa saat sebelum menutup rapat paripurna dengan agenda pengajuan empat rancangan peraturan daerah (Ranperda), di ruang sidang Dewan, Senin (25/2/2008). Keempat ranperda dimaksud adalah Ranperda tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah, Ranperda tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah, Ranperda tentang Pelayanan Publik dan Ranperda tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS). Mell Adoe menegaskan, Anggotaan Panwas Pilgub NTT berjumlah tiga orang, terdiri dari unsur kejaksaan, kepolisian dan tokoh masyarakat. Jumlah anggota panwas yang hanya tiga orang itu diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pemilu.Pasal 129 ayat 3 UU No 22/2007 menyatakan bahwa dalam hal penyelenggaraan pemilu kepala daerah dan wakil kepala daerah, yang akan berlangsung sebelum terbentuknya Banwaslu berdasarkan UU ini, pembentukan panwas pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah berpedoman kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku sebelum UU diundangkan.Meski demikian, mekanisme perekrutan anggota panwas tetap mengacu pada UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 2005. Sementara pengelolaan dana Panwas tetap mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No. 44 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Keuangan Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.Komposisi beserta jumlah anggota Panwas Pilgub berbeda dengan Panwas sebelumnya yang berjumlah lima orang, yakni dari unsur kejaksaan, kepolisian, tokoh masyarakat, akademisi dan pers. Tentang jumlah anggota panwas sebanyak tiga orang, kembali ditegaskan Mell Adoe ketika menggelar jumpa pers di ruang kerjanya, usai rapat paripurna.Lebih lanjut, Mell Adoe mengatakan, tim seleksi akan menyeleksi masyarakat yang memasukkan lamaran ke Sekretariat DPRD NTT. "Dari tiga anggota panwas, hanya satu yang diseleksi yaitu dari unsur tokoh masyarakat. Duanya, yaitu dari unsur kejaksaan dan kepolisian ditunjuk langsung oleh atasannya," kata Mell Adoe.Secara normatif, waktu pembentukan Panwas Pilgub yang ditandai dengan pelantikan anggota Panwas, yakni 21 hari sejak penyerahan surat pemberitahuan Dewan kepada kepala daerah dan wakilnya. DPRD menyerahkan surat dimaksud kepada Gubernur dan Wakil Gubernur NTT pada tanggal 15 Januari 2008 sehingga Panwas Pilgub harus dilantik pada tanggal 10 Maret 2008.Berbagai pihak mengkhawatirkan proses pembentukan panwas akan molor mengingat hingga Senin kemarin, DPRD NTT baru mengeluarkan pengumuman dimulainya proses rekruitmen calon anggota Panwas Pilgub dan waktu yang tersisa hanya 14 hari.Setelah terbentuk, Panwas Pilgub di tingkat propinsi akan membentuk Panwas Pilgub di tingkat kabupaten/kota di NTT. Selanjutnya, secara berjenjang Panwas kab/kota akan membentuk panwas kecamatan dan panwas kecamatan merekrut seorang panwas di tingkat desa/kelurahan.Mell Adoe mengatakan, DPRD NTT optimis bahwa Panwas di semua tingkatan akan terbentuk dalam waktu dua minggu tersisa. Ia membantah bahwa lambatnya pembentukan Panwas bermotif untuk memperlemah fungsi pengawasan terhadap proses Pilkada.DP4 bermasalahAnggota Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Propinsi NTT, John Depa mengungkapkan, Daftar Penduduk Potensial Pemilih Pemilu (DP4) yang diserahkan Pemerintah Propinsi NTT ke KPUD, bermasalah.Kepada wartawan di sekretariat KPUD NTT, Sabtu (23/2/2008), John Depa mengatakan, ada empat kabupaten yang DP4-nya bermasalah, yakni Sumba Barat, Sumba Barat Daya dan Sumba Tengah dan Kabupaten Flores Timur."Masalahnya terletak pada format data. Empat kabupaten itu format datanya dalam bentuk P4B, semestinya harus dalam format DP4. Kami membayangkan petugas akan tidak optimal karena data dalam format P4B tidak sesuai dengan format A1KWK sehingga pemasukan data dasar bisa tersendat. Kalau format DP4 itu sesuai dengan format A1KWK sehingga tidak membingungkan, karena tabelnya sesuai," ujar John Depa.Untuk mengatasi masalah tersebut, demikian John Depa, tim dari pemerintah propinsi sudah turun ke empat kabupaten itu untuk membantu KPUD setempat dan pemerintah daerah membuatnya dalam format DP4. (aca)
"Tak ada pertanda buruk"TRAGIS. Mungkin kata inilah yang paling tepat mengungkapkan peristiwa mengenaskan di Dusun II Taterek, Desa Manusak, Kecamatan Kupang Timur. Betapa tidak, tiga bersaudara, Bernadinu Fernandez (12), Sebastian Fernandez (21) dan Gidu Kaitanu Kabral (25) meninggal pada tempat dan waktu yang sama pula.Keluarga asal Baukau, Timor Timur (Timor Leste sekarang), baru saja menetap di Desa Manusak sejak bulan Desember 2007. Sebelumnya mereka menetap di kamp pengungsi di Naibonat. Rumah sederhana setengah tembok ukuran 5X6 meter yang mereka tempati sekarang ini dibangun TNI. Sebagian dinding atas dari bebak (pelepah gewang yang kering), lantai tanah dan beratap seng. Tiga jenazah tersebut dijejer dalam peti pada ruangan tengah rumah itu. Hanya tersisa sekitar dua meter saja ruang kosong. Dalam ruang itu terdapat satu meja tempat lilin. Setiap peti jenasah dijaga seorang keluarga sedangkan kerabat lainnya berada di halaman depan rumah. Lantaran kapasitas lampu listrik terbatas, warga meminjam genzet ukuran satu kilowatt untuk menambah jumlah mata lampu sehingga rumah duka lebih terang di malam hari.Kepala Desa Manusak, ZH Ingunau sempat berkunjung di rumah duka sekitar pukul 19.30 Wita, semalam. Dia datang untuk memberi peneguhan kepada warganya yang dirundung duka. "Ini peristiwa karena banjir. Kita harus mempublikasikan keadaan ini sehingga bisa menjadi perhatian," ujar Kades Ingunau.Keluarga pun tidak berkeberatan. Ketua peguyuban Baukau di tempat itu, Igidiu Sarmento dan pemuka lainnya, Ojorio Fernandes juga ikut bergabung dengan Kades menjelaskan peristiwa itu kepada wartawan.Rumah duka tersebut letaknya sekitar 36 kilometer dari Kupang. Tepat di Kilometer 33 Jalan Timor Raya, ada cabang masuk ke kanan, itulah jalan menuju Manusak. Melintasi jalan yang berlubang sekitar tiga kilometer, barulah tiba di rumah duka. Banyak warga eks Timtim berkumpul di rumah duka. Saling meneguhkan.Di desa itu cukup banyak rumah yang dibangun TNI. Antara satu rumah dengan rumah yang lainnya tidak ada tanaman. Saat musim penghujan seperti sekarang ini, halaman becek berlumpur.Keluarga Anton Fernandez tergolong sederhana. Dalam kesederhanaan hidupnya, Anton tetap menopang anaknya, Sebastian Fernandez ikut kuliah. Pekan lalu, Sebastian baru mendapat surat keterangan tidak mampu dari Kepala Desa Manusak, ZH Ingunau. Surat keterangan ini untuk meringankan beban biaya di kampus Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira-Kupang). "Aduh, jadi yang meninggal ini anak yang baru saja saya tandatangani surat keterangan tidak mampu untuk kebutuhan kuliahnya," ujar Kades Manusak agak terperanjat.Saat didatangi di rumah duka, keluarga terlihat seperti kehabisan air mata. Hanya mama Ana Kontilde Fernandez yang sesekali menangis. Kontilde sering berucap dalam bahasa daerah sehingga sulit dipahami artinya.Anton mengizinkan wartawan memotret peti jenazah anak-anaknya. "Boleh saja pak," ujar Anton yang saat itu mengenakan baju kumal berwarna gelap serta celana pendek berwarna putih. Ia nampak lusuh dan tak bersemangat seperti istrinya yang tak henti-hentinya menangis. Anton pun bersedia meladeni pertanyaan wartawan. Suaranya terdengar lirih dan sangat parau. Sesekali terlihat punggung tanggannya menyeka air mata yang mengalir dari kedua sudut matanya."Apa ada tanda-tanda sebelum kejadian ini?" "Kami mimpi buruk saja tidak. Jadi peristiwa ini benar- benar mengejutkan kami semua. Kami tidak mendapatkan tanda apa-apa," demikian Anton Fernandez. (marsel ali)